ASPEK KESEHATAN DALAM DUNIA PARIWISATA NTT

Prediksi berkembangnya Pariwisata New Normal setelah masa Pandemi Covid -19 berakhir nanti, dimana wisatawan cenderung untuk lebih memperhatikan aspek kesehatan, keamanan dan higenis dalam melakukan perjalanan wisata, membuat semua pelaku pariwisata perlu mempersiapkan perubahan – perubahan yang bakal terjadi tersebut. Untuk maksud tersebut Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Provinsi NTT bekerjasama dengan pelaku pembangunan […]

Sumber : Dinas Parekraf NTT

Prediksi berkembangnya Pariwisata New Normal setelah masa Pandemi Covid -19 berakhir nanti, dimana wisatawan cenderung untuk lebih memperhatikan aspek kesehatan, keamanan dan higenis dalam melakukan perjalanan wisata, membuat semua pelaku pariwisata perlu mempersiapkan perubahan – perubahan yang bakal terjadi tersebut. Untuk maksud tersebut Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Provinsi NTT bekerjasama dengan pelaku pembangunan pariwisata melalui Sekolah Lapang Ekowisata Desa (SLE-Desa) kembali menggelar Diskusi ke 4 PARIWISATA BANGKIT.

“Pasca Pandemi Covid-19”, pada Senin 11 Mei 2020 secara virtual meeting. Diskusi kali ini mengangkat tema : “Pariwisata New Formal: Destinasi Exotic, Bersih, Aman dan Nyaman dengan Protokol Kesehatan”, menghadirkan beberapa narasumber seperti dr. Yusi Kusumawardhani dari RSU W.Z. Johannis Kupang, Ir.Theo Widodo dari Kadin NTT dan Ivan Rendo dari DPD IVENDO NTT dengan moderator Bapak Eden Kalakik,SE,M.Si (Kabid Destinasi Dinas Parekraf NTT).

Dr. Yusi Kusumawardhani menyampaikan beberapa pokok pikiran terkait protokol kesehatan sektor kepariwisataan sehubungan dengan makin meningkatkan kesadaran dan kebutuhan wisatawan akan aspek kesehatan dan higenis sebuah lokasi destinasi wisata. Perlu kolaborasi dengan dinas kesehatan (provinsi dan kabupaten/kota) untuk memastikan fasilitas kesehatan di desa – desa wisata seperti puskesmas dapat berkembang menjadi puskesmas pariwisata. Untuk mewujudkan puskesmas pariwisata tersebut yang utama adalah kesiapan sumber daya seperti SDM, peralatan medis dan sistem pelayanan sehingga puskemas yang ada di desa-desa wisata perlu didorong dan difasilitasi untuk mendapatkan status akreditasi paripurna atau minimal akreditasi madya.

Ir. Theo Widodo lebih menekankan pada upaya untuk mempersiapkan destinasi wisata di NTT selama agar begitu masa pandemi ini berakhir sudah siap menerima kehadiran wisatawan. Fokus untuk mendorong wisatawan domestik di NTT melakukan kunjungan ke destinasi wisata di NTT pada saat pendemi Covid-19 berakhir, khususnya para kaum muda/milenial. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pesan kepada dunia bahwa NTT memiliki lokasi – lokasi wisata berkelas dunia yang masih bersih dan alamiah serta tentu saja sehat dan aman. Sebagai salah satu cara untuk mulai membangkitkan sektor pariwisata NTT yang paling terpukul dengan adanya virus corana ini.

Sementara Ivan Rendo menyoroti aspek database pariwisata yang masih lemah dan perlu pemanfaatan teknologi informasi. Penggunaan teknologi informasi seperti membangun sistem Big Data yang memetakan semua potensi wisata dan unsur – unsur penunjangnya termasuk fasilitas kesehatan yang ada pada lokasi – lokasi wisata. Adanya informasi ini membuat wisatawan merasa aman dan nyaman sehingga bersedia melakukan kegiatan wisata di NTT. Sistem informasi geografis perlu dibangun di Dinas Parekraf NTT untuk menampilkan segala informasi kepariwisataan yang up to date dan real time. Contoh penggunaan teknologi informasi adalah menyiapkan virtual tour yang menampilkan paket-paket informasi destinasi wisata NTT. Hal ini juga menjadi salah satu strategi promosi wisata yang sangat efektif dan persiapan destinasi wisata di masa pandemi Covid-19.

Pada diskusi ini juga mengangkat beberapa hal yang terkait dengan upaya menjalankan protokol kesehatan di semua destinasi wisata yang ada seperti penguatan pemahaman masyarakat terhadap Sapta Pesona dan Sadar Wisata, peningkatan kemampuan SDM masyarakat untuk melayani wisatawan. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah perlunya kerjasama / kemitraan dengan model pentahelix (pemerintah, swasta, akademisi, media, masyarakat) dalam skema Public Private Partnership (PPP) untuk membangun kepariwisataan NTT menjadi Ring of Beauty, yang dimulai dengan membangun dan mengembangkan desa desa yang punya potensi wisata menjadi desa wisata.

Penulis : Paul J. Andjelicus/Perencana Muda Dinas Parekraf Provinsi NTT
Posting : Fajar Manik

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *