Desa Kabola

Desa Kabola dihuni 1.043 KK dan 3.961 jiwa dengan jumlah pendudukwanita lebih banyak 23 orang daripada laki-laki. Mayoritas berprofesisebagai petani (816 KK) dan Nelayan (115KK). Sisanya bekerja sebagaipedagang, pegawai negeri dan swasta. Mali dan Pulau Sika merupakanbagian dari Kelurahan Kabola yang memiliki luas 5.069 hektar denganarea pantai yang dominan dilindungi bakau atau tongke. Menurut cerita, […]

Sumber : Tim Digital Literasi Pariwisata NTT, Kab.Alor

Desa Kabola dihuni 1.043 KK dan 3.961 jiwa dengan jumlah penduduk
wanita lebih banyak 23 orang daripada laki-laki. Mayoritas berprofesi
sebagai petani (816 KK) dan Nelayan (115KK). Sisanya bekerja sebagai
pedagang, pegawai negeri dan swasta. Mali dan Pulau Sika merupakan
bagian dari Kelurahan Kabola yang memiliki luas 5.069 hektar dengan
area pantai yang dominan dilindungi bakau atau tongke.

Menurut cerita, seorang Sultan dari Cirebon datang ke Pulau
Sika yang keramat dan berjanji akan selalu menjaga masayarakat
mali dan keturunannya. Kawasan ini menjadi sangat penting karena
cerita masa lalu masyarakat Kabola untuk selalu menjaga dan menghormati alam. Sultan tersebut bernama Sultan Alamudin yang
merupakan keturunan ke9 dari Wali Songo yaitu Sunan Gunung
Jati. Alamudin memiliki kesaktian bisa menjadi api yang menyala di atas laut. Beliau berjalan dari Cirebon ke Aceh, Kendari, hingga
ke Maumere di Flores. Karena kesaktiannya, beliau hanya terlihat
seperti kayu yang mengapung di atas air laut.

Ketika tiba di Maumere, sedang terjadi perang antara masyarakat pantai dengan masyarakat gunung. Alamudin membantu orang pantai hingga
memenangkan peperangan. Sebagai ucapan terima kasih, orang pantai
Maumere mau memberikan sebagian kampung Maumere, namun Alamudin tidak mau menerimanya. sang Sultan hanya meminta supaya wilayah tersebut dinamakan Sikka, dan hingga saat ini menjadi Kabupaten Sikka. Alamudin kemudian melanjutkan perjalanannya hingga tiba di Pantai Bota, kemudian melanjutkan ke Tabana Ji’ara (ujung Kampung Mali, saat ini sudah menjadi bandara). Tempat itu dahulu dipenuhi oleh
tongke (bakau) yang menghubungkan Kampung Mali dengan Pulau Sika. Setelah dilewati oleh Sultan, tongke-tongke tersebut menjadi hilang sehingga memisahkan daratan Mali, Alor dan Pulau Sika.

Ketika itu, Ketua Suku raja di Kabola yang bernama Ol’Oho mempunyai
rumah di tempat tersebut bernama heleu yang artinya batu rumah, karena
rumah tinggalnya terbuat dari batu.
Namun Ol’Oho sendiri tinggal di Meguli, di Kampung Lama. Ia mempunyai dua ekor anjing yang saat itu tidak pulang ke rumah tinggal. Ol’Oho kemudian mencari anjing tersebut, dan terdengar suara gonggongannya di ujung pantai.
Ketika tiba di pintu tongke, bertemulah Ketua Suku raja dengan Sultan Alamudin.

Singkat cerita, Ol’Oho kemudian membuat kesepakatan dengan Alamudin untuk menikahkan Alamudin dengan putrinya yang bernama Bui. Sebelum pernikahan dilaksanakan, Ol’Oho harus pulang ke Meguli untuk melakukan pesan dari Alamudin, “Ambil padi untuk ditumbuk. Lalu ambil tujuh butir padi dan masing-masing ditaruh di kulit jagung. Kemudian bawa juga Bui yang masih perawan, beserta pinang dan upih (untuk dibuat menjadi tambur), juga satu ekor kambing.”

Setelah melakukan pesan Alamudin, Ol’Oho turun kembali ke pantai untuk
menemuinya. Alamudin bertanya, apakah ia bisa menumpang di pulau
Ol’Oho dan Ol’Oho memperbolehkannya. Namun Ol’Oho mengatakan tidak bisa menyeberang sekarang karena air laut sedang tinggi. Alamudin kemudian mengatakan bahwa ia akan berenang dulu ke pulau Sika,
dan Ol’Oho bersama Bui mengikuti di belakangnya. Ternyata jalur
renang Alamudin berubah menjadi pasir sehingga Ol’Oho dan Bui bisa
berjalan ke pulau.

Bapak Onesimus Laa merupakan salah satu keturunan Ol’Oho

Sumber : Tim Digital Literasi Pariwisata NTT, Kab.Alor
Posting : Fajar Manik

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *