Kampung Adat Sumba Barat

ADA sebuah julukan yang rasanya pantas diberikan kepada Kabupaten Sumba Barat yaitu The land of A Thousand Villages atau tanah seribu kampong. Kabupaten ini memang penuh dengan kampung-kampung tradisional yang tersebar mulai dari pelosok terpencil hingga ke kota. Mungkin Anda tak percaya di pusat kota ada kampung teradisionalnya, tapi begitulah keunikan Sumba Barat, yang modern […]

Sumber : Istimewa

ADA sebuah julukan yang rasanya pantas diberikan kepada Kabupaten Sumba Barat yaitu The land of A Thousand Villages atau tanah seribu kampong. Kabupaten ini memang penuh dengan kampung-kampung tradisional yang tersebar mulai dari pelosok terpencil hingga ke kota. Mungkin Anda tak percaya di pusat kota ada kampung teradisionalnya, tapi begitulah keunikan Sumba Barat, yang modern dan tradisional bercampur jadi satu.

Penduduk Sumba Barat umumnya membangun perkampungan mereka di puncak –puncak bukit. Kecenderungan ini setidaknya didasarkan atas dua alasan utama yaitu alas an praktis dan religius. Di masa lalu sering terjadi perang antar suku untuk memperebutkan daerah kekuasaan sehingga tempat yang tinggi dianggap lebih praktis untuk dijadikan benteng pertahanan. Sedangkan dari sisi religious mengacu pada konsepsi prasejarah yang mrnganggap semakin tinggi tempat tinggal, semakin dekat pula penghuninya dengan arwah leluhur dan dewa-dewa. Apa pun alasannya, posisi kampung yang berada di puncak bukit mendatangkan keuntungan estetika berupa pemandangan yang sangat indah.

eperti telah dibahas padabab sebelumnya ada dua jenis kampung trdisional yang dikenal penduduk asli Sumba, yaitu kampung besar (wanno kalada) dan cabang dari kampung besar tersebut (wanno gollu). Kampung besar adalah kampong yang dibangun oleh nenek moyang pertama pertama merupakan pusat dan merupakan pusat penyelenggaraan berbagai ritual adat penting. Karena ritual yang disandangnya wanno kalada sering pula dirujuk dengan istilah kampong adat. Sementara kampong cabang adalah kampong-kampung yang dibangun oleh generasi yang lebih mudah. Kampong semacam ini bukan tempat kediaman marapu sehinnga tidak memiliki peran ritual. Warganya selalu harus kembali kekampung besar sewaktu hendak menggelar upacara-upacara penting, termasuk perkawinan dan penguburan. Dengan demikian kampong adat atau wanno kalada bias pula dilihat sebagai sebuah identitas kelompok. Orang-orangnya, baik yang masih tinggal disana ataupun yang tersebar diberbagai tempat lain, terikat satu sama lain oleh hak dan kewajiban yang sama atas kampong mereka dan berbagai kegiatan sosio-religius.

ampong adat Sumba dikelilingi pagar batu yang tertata rapi serta dilengkapi dua gerbang utama, gerbang masuk yang disebut bina tama dan gerbang keluar yang disebut bina louso. Sebongkah batu atau symbol-simbol lain yang telah diperciki darah hewan persembahan diletakkan dimasing-masing gerbang sebagai perlambang roh penjaga pintu (marapu bina). Sebuah wanno kalada umumnya dihuni oleh lebih dari satu klan, masing-masing memiliki satu rumah adat utama. Rumah-rumah ini dibangun berjajar mengelilingi sebuah pelataran suci (natara podu) yang pada waktu-waktu tertentu digunakan sebagai tempat menggelar berbagai ritual penting. Di sekitar natara dan rumah adat tersebar makam megalitik. Orang sumba selalu mendirikan kuburan didepan rumah mereka agar senantiasa dekat dengan kerabat yang telah meninggal. Posisi mayat pun selalu menghadap kearah rumah agar dapat mengawasi aktifitas mereka yang masih hidup. Selain fungsi pokoknya sebagai tempat mengubur mayat, makam-makam ini sering juga digunakan untuk kegiatan lain yang bersifat profan, misalnya menjemur padi atau menjadi semacam balkon untuk menonton upacara adat yang di gelar di natara.

Selain batu kubur, terdapat beberapa objek pemujaan yang tersebar ditengah kampong adat. Yang paling umum adalah katoda. Berupa tonggak kayu kecil dengan batu pipih dibawahnya sebagai tempat meletakkan persembahan bagi marapuh. Di beberapa kampong tertentu ada watukaballa atau batu kilat yang dipercaya berasal dari langit dan konon bias mendatangkan sambaran petir terhadap orang-orang yang berniat buruk. Lainnya berupa pokok kayu mati yang di sebut adung. Pada zaman dahulu adung digunakan untuk menggantung kepala musuh. Didepan adung pula di gelar upacara-upacara persiapan perang dan sesudahnya sekarang ini yang digelar disitu adalah ritual persiapan berburu babi hutan yang diselenggarakan pada saat bulan suci (wulla poddu) sekitar oktober-november setiap tahun.

Sumber : Istimewa
Posting : Fajar Manik

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *