Kampung Melo

Sebuah kampung adat di Kabupaten Manggarai Barat, Flores Barat, NTT memiliki panorama yang akan membuat siapapun menahan nafas. Alhasil, kampung ini kerap menjadi objek wisata yang menghipnotis semua pengunjungnya, termasuk saya. Sebuah pagi yang mendebarkan sekaligus menggelitik rasa ingin tahu. Saat itu, saya berdiri di depan wanita berpakaian kuning dengan rok kain khas Flores. Matanya […]

Sumber : Istimewa

Sebuah kampung adat di Kabupaten Manggarai Barat, Flores Barat, NTT memiliki panorama yang akan membuat siapapun menahan nafas. Alhasil, kampung ini kerap menjadi objek wisata yang menghipnotis semua pengunjungnya, termasuk saya.

Sebuah pagi yang mendebarkan sekaligus menggelitik rasa ingin tahu. Saat itu, saya berdiri di depan wanita berpakaian kuning dengan rok kain khas Flores. Matanya tajam namun ramah, seperti menyorotkan kata selamat datang. Sebuah selendang dikalungkan, jejeran tubuh itu menepi, seakan membuka jalan. Tapak pertama saya menjejak tanah Kampung Melo, sebuah kampung adat yang ada di Kecamatan Manggarai Barat, Flores Barat, NTT.

Jalan berbatu yang menanjak menyambut saya. Pohon nanas bisa ditemui di sepanjang tepian jalan setapak. Tak lama, sampailah saya di pelataran kampung. Area datar dengan sebuah rumah panggung di sisi kanan, lapangan di depannya dan sepotong meja dan serta beberapa kursi batu di pojok kanan.

Kampung Melo adalah salah satu kampung adat yang berada di Flores. Berada di kaki Gunung Beliling, kampung ini memiliki dataran yang berundak. Panorama di sana pun tak kalah indah. Melihat pemandangan dari ‘beranda’nya saja sudah membuat saya menahan nafas. Pepohonan hijau menutupi daratan di bawahnya. Langit biru bersih dengan awan tipis menjadi payung alam yang sempurna.

Dari 1.800 orang penduduk yang tinggal di sini, saya bertemu dengan 30 di antaranya. Beberapa dari mereka jadi penari, pemusik dan lainnya merupakan tetua dari kampung tersebut. Saya yang waktu itu tergabung dalam grup Adira Faces of Indonesia, disambut baik oleh Kepala Desa. Dengan melakukan Rangkung Alo yang berarti penerimaan adat, kami dari pihak tamu menyerahkan 3 jenis benda antara lain seekor ayam putih, tuak dan sebungkus rokok.

Ayam putih mewakili hati yang putih dari tamu, tuak mewakili kehormatan yang diberikan kepada tetua di kampung sedangkan rokok adalah benda wajib yang harus ada kala ingin bertemu dan berbincang dengan tetua di sana. Mentari saat itu bersinar cerah, cenderung terik. Namun angin yang berhembus tetap sejuk. Maklum saja, letak desa yang ada di kaki gunung membuat suhu di sini cenderung rendah.

Suhu tertinggi di sini hanya mencapai 20 derajat celcius sedangkan suhu terendah di sini bisa mencapai 10 derajat celcius. Saya menyempatkan diri duduk di sebuah kursi yang lebih mirip batu yang diceperkan. Saya menghirup udara dalam-dalam dan membiarkan paru-paru menikmati betapa segarnya udara di kampung adat ini.

Seorang anak kecil tiba-tiba muncul dari balik pohon, memamerkan deretan gigi putih dan mata yang jenaka. Saya menyapa dengan senyum yang tak kalah lebar. Saat menanyakan nama, saya hanya disuguhi senyum serupa dengan tambahan telunjuk yang digigitnya, setelahnya ia berlari ke kerumunan teman-temannya di balkon rumah panggung.

Tanpa disadari saya pun terlarut dengan sajian alam yang begitu indah. Tak lepas mata memandang hamparan pepohonan hijau dari ketinggian, ditambah langit biru yang kadang dilalui burung sebesar telapak tangan atau lebih. Belum selesai saya mengagumi panorama di depan mata, seorang wanita membawa nampan berisi teh dan kopi hangat menghampiri seraya berkata, “Tarian sebentar lagi dimulai kakak, silakan menonton di sana. Mau kopi atau teh hangat?” ujarnya sambil tersenyum ramah. Saya mengambil secangkir teh dan berlalu bersama sang wanita menuju lapangan diadakannya Tari Caci. Dalam tarian yang gagah, mereka mengucapkan selamat datang.

Sumber : Istimewa
Posting : Fajar Manik

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *