Padang Lelo Fui dan Padang Fet In

Kita kembali sejenak ke benteng alam Bi Tasi dan Bi Nau di Oenino. Jika dari lokasi ini anda memutuskan untuk langsung menuju ke puncak gunung Mutis, maka perjalanan sebaiknya dilakukan dengan berjalan kaki. Perjalanan sebenarnya dapat dilakukan dengan kendaraan namun hal ini tidak dianjurkan karena akan merusak kondisi jalan. Perjalanan akan dilakukan melalui hutan eucalyptus […]

Sumber : Tim Digital Literasi Pariwisata NTT, Kab.TTS

Kita kembali sejenak ke benteng alam Bi Tasi dan Bi Nau di Oenino. Jika dari lokasi ini anda memutuskan untuk langsung menuju ke puncak gunung Mutis, maka perjalanan sebaiknya dilakukan dengan berjalan kaki. Perjalanan sebenarnya dapat dilakukan dengan kendaraan namun hal ini tidak dianjurkan karena akan merusak kondisi jalan.

Perjalanan akan dilakukan melalui hutan eucalyptus dan cemara yang disebut warga sebagai Son Fin yang berarti ‘banyak istana’. Konon di sinilah pernah berdiri kediaman para raja-raja.

Setelah berjalan kaki selama kurang lebih 45-60 menit dari Oenino, pengunjung akan tiba di sebuah padang luas nan indah bagai karpet alam yang terhampar luas tak bertepi. Inilah Lelo Fui, sebuah padang yang terdapat tepat di kaki Gunung Mutis. Lelo Fui artinya jeruk liar. Konon di jaman kolonial tempat ini pernah ada sebuah kebun yang berisi anakan berbagai tanaman seperti jeruk purut, apel, kopi, murbey dan lain-lain yang tujuannya dibagikan kepada penduduk Mollo untuk ditanam. Kemungkinan karena anakan jeruk yang dibiarkan tumbuh liar di kemudian hari maka tempat ini disebut Lelo Fui yang berarti jeruk liar. Di Padang ini melintas sebuah sungai dengan air pegunungan yang sangat dingin dan jernih.

Padang Lelo Fui di kaki gunung Mutis

Juga di tempat ini pernah berdiri sebuah rumah adat yang bernama Lopo Ni Fanu. Lopo Ni Fanu artinya rumah adat bertiang delapan. Angka delapan menunjukkan delapan suku besar yang dipercaya pernah tinggal di kaki gunung Mutis namun kemudian terpencar ke berbagai tempat di pulau Timor. Kedelapan suku itu adalah: Mollo, Miomafo, Ambenu, Amfoang, Amanuban, Amanatun, Amarasi, dan Am Kase (mereka yang tidak termasuk kedelapan suku). Replika dari Lopo Ni Fanu dapat dilihat pada homestay Mateos Anin di Fatumnasi. Mateos Anin mengaku “memindahkan” alias membangun kembali Lopo Ni Fanu pada tahun 2010 di Fatumnasi, walaupun tak ada yang berani melakukan hal itu sebelumnya karena kuatir akan mengalami kemarahan para leluhur.

Jika pengunjung ingin melihat sunrise di padang pertama ini disarankan berangkat dari Fatumnasi maksimal pukul 04.45, dengan mengenakan baju hangat.
Selepas Lelo Fui masih terdapat lagi sebuah padang yang tak kalah indahnya. Padang kedua ini lebih tinggi dari Lelo Fui dan dibatasi oleh sejumlah vegetasi. Padang yang berada di ketinggian 1.920 mdpl ini lebih luas dan lebih terbuka dari padang pertama. Padang kedua ini sebenarnya bernama Fet In artinya pelepasan. Namun dewasa ini sering disebut oleh penduduk setempat sebagai Ume Blek (dibaca Uim Balek) artinya rumah blek atau rumah (beratap) seng. Konon orang-orang Belanda pernah membangun sebuah rumah beratap seng di lokasi ini. Itulah sebabnya tempat ini sebut Ume Blek. Sisa tiang jemuran pakaian bahkan masih ada beberapa tahun lalu.
Selain digunakan pengujung untuk berkemah, kedua padang ini juga merupakan tempat peristirahatan pengujung yang akan mendaki ke puncak gunung Mutis.

Sumber : Tim Digital Literasi Pariwisata NTT, Kab.TTS
Posting : Fajar Manik

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *