Pertama di NTT, Pemkab Lembata Punya Kapal Pinisi Senilai 2,4 M, Interkoneksi Wisata Antar Pulau

LEWOLEBA – PEMERINTAH Kabupaten Lembata kini memiliki sebuah Kapal Pinisi . Kapal yang diberi nama “Aku Lembata” itu sudah berevolusi dari Kapal jenis Lambo, memiliki 7 layar, dikerjakan CV Fajar Indah Pratama, dengan nilai kontrak sebesar Rp. 2. 495.900.000. Pengadaan kapal tersebut menggunakan dana DAK TA 2019 oleh Dinas PUPR Kabupaten Lembata . Kapal yang […]

Sumber : Ricko Wawo (pos kupang)

LEWOLEBA – PEMERINTAH Kabupaten Lembata kini memiliki sebuah Kapal Pinisi . Kapal yang diberi nama “Aku Lembata” itu sudah berevolusi dari Kapal jenis Lambo, memiliki 7 layar, dikerjakan CV Fajar Indah Pratama, dengan nilai kontrak sebesar Rp. 2. 495.900.000. Pengadaan kapal tersebut menggunakan dana DAK TA 2019 oleh Dinas PUPR Kabupaten Lembata . Kapal yang dibeli oleh Pemerintah Kabupaten Lembata itu akan dioperasikan untuk menjalin interkoneksi pariwisata yang menghubungkan Labuan Bajo, Sumba dan Pulau Timor.

“Ini utuk mempercepat inovasi. Tahun depan kita usul ke menteri untuk manambah lagi dua unit kapal Phinisi. Ini jadi contoh, bahwa kabupaten Lembata satu-satunya Kabupaten di NTT yang sudah punya kapal Pinisi untuk inovasi interkoneksi, seperti yang disebut Gubernur NTT, dalam masyarakat ekonomi NTT,” ujar Bupati Eliaser Yentji Sunur, Sabtu (7/3/2020) saat meninjau kapal Pinisi yang tiba di pelabuhan laut Lewoleba kemarin.

Kapal tersebut kini sudah dalam proses finishing akhir. Anggota DPRD Lembata Paulus Makarius Dolu dan sejumlah pejabat teras lingkup Pemkab Lembata juga tampak hadir memantau kapal ‘Aku Lembata’ Putra Jak Nuh, Pelaksana CV Payaraya Maros yang mengerjakan kapal pinisi ini menyebutkan kapal yang dikerjakan itu berstandar kapal pesiar.

“Ini standar operasional Kapal Pesiar. Kapal bisa mengangkut 20 orang penumpang, dilengkapi 4 Kamar tamu yang bisa menampung 10 orang, satu kamar VIP untuk satu keluarga, 2 Kamar crew. Kita tambahkan kamar meeting. Jadi kalau pemda ada mau menetapkan APBD II, bisa dilakukan di atas kapal pinisi Aku Lembata. Ini standar kapal pesiar jadi harus dilengkapi dengan koki, chip, dan laundry,” ujar Putra Jack Nuh.

Pelaksana pengadaan kapal ini mengungkapkan kapal tersebut belum tuntas, namun akan diselesaikan hingga dua bulan mendatang.

“Insya Allah dalam satu dua bulan ke depan kita bisa tuntaskan. Karena kita hanya disiapkan 150 hari kerja kapal ini, waktu yang sangat singkat untuk pembuatan kapal,” ujar Putra Jack Nu.

Ia menjelaskan meski diburu waktu, dalam jangka waktu enam bulan, kapal ini sudah ada di Lembata. Bahkan, lanjutnya, saat proses pengerjaan ada warga asing yang sudah menawar dengan harga yang lebih tinggi, tapi pihaknya sudah terikat kontrak dengan Pemkab Lembata dan tidak mungkin diberikan kepada orang lain.

Kapal pinisi itu dibuat di Tanah Beru, Kabupaten Bulu Kumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Butuh waktu 3 hari 2 malam pelayaran dari Tanah Beru, pusat pembuatan kapal pinisi untuk sampai ke Lewoleba. Kapal bermesin 9 knot, RPM 2500, bermesin 6 Silinder membutuhkan BBM 30 Liter per jam. Enam Slinder ini di atas kapasitas 360 HP.

“Yang saya bilang Link itu, ini,” tambah Bupati Sunur, Sementara itu, Ferdi Pegan, warga kota Lewoleba, berharap, kapal pinisi itu dapat dikelola secara profesional agar memberi manfaat ekonomis pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Lembata.

“Banyak pengalaman, pengelolaan kapal yang tidak professional akan menyebabkan mubasir. Daerah akan rugi kalau tidak dikelola dengan professional,” ujarnya.

Keterangan Foto/Ricko Wawo/Bupati Eliaser Yentji Sunur, Sabtu (7/3/2020) saat meninjau kapal Pinisi yang tiba di pelabuhan laut Lewoleba kemarin. Kapal tersebut kini sudah dalam proses finishing akhir. Anggota DPRD Lembata Paulus Makarius Dolu dan sejumlah pejabat teras lingkup Pemkab Lembata juga tampak hadir memantau kapal ‘Aku Lembata’.

Sumber : Ricko Wawo (pos kupang)
Posting : Fajar Manik

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *