Potensi Arsitektur Tradisional Bagi Pembangunan Pariwisata Estate NTT

Karya arsitektur telah cukup signifikan berkontribusi bagi pembangunan pariwisata. Arsitektur sebagai salah satu sektor dalam ekonomi kreatif dan arsitek sebagai kelompok adalah stakeholder yang sangat penting bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Sektor pariwisata tidak mungkin berkembang tanpa karya arsitektur yang memiliki nilai kegunaan, kekuatan, keindahan, dan estetika. Gedung atau ikon arsitektur juga bisa menjadi […]

Sumber : Istimewa (Paul J. Andjelicus)

Karya arsitektur telah cukup signifikan berkontribusi bagi pembangunan pariwisata. Arsitektur sebagai salah satu sektor dalam ekonomi kreatif dan arsitek sebagai kelompok adalah stakeholder yang sangat penting bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Sektor pariwisata tidak mungkin berkembang tanpa karya arsitektur yang memiliki nilai kegunaan, kekuatan, keindahan, dan estetika. Gedung atau ikon arsitektur juga bisa menjadi daya tarik wisata. Contoh Menara Eiffel Paris, Gedung Opera Sydney House dan Marina Bay Sands Singapura, adalah sederet contoh karya arsitektur yang berkontribusi besar bagi dunia pariwisata. Keanekaragaman budaya di Indonesia khususnya arsitektur tradisional dapat menjadi modal berharga bagi dunia pariwisata jika mampu dikelola dengan baik. Di tengah era modern, keberanian mengangkat nilai-nilai kearifan lokal dengan kepedulian tinggi terhadap lingkungan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Arsitek memiliki peranan penting untuk menciptakan arsitektur berkualitas yang mencerminkan ciri khas Indonesia seperti bangunan hotel, restoran, galeri, hingga museum. Ide kreatif arsitek bisa mengangkat suatu lokasi menjadi daya tarik wisata yang memiliki daya saing internasional. Dengan karya arsitektur yang memenuhi ekspektasi mereka (wisatawan), menjadi garansi wisatawan untuk kembali berkunjung dan menjadi corong informasi dan publikasi dengan kekuatan media sosial.

Pembangunan pariwisata di NTT menjadi sektor penggerak utama (prime mover) ekonomi di daerah dan dilakukan dengan mengembangkan pariwisata daerah melalui pemenuhan unsur 5 A Pariwisata (Attraction, Accessibility, Acommodation, Amenities dan Awareness) dengan pola pendekatan kawasan. Untuk itu pembangunan pariwisata daerah dilaksanakan dalam bentuk Pariwisata Estate yaitu konsep pembangunan kawasan industri pariwisata secara terpadu dan dinamis yang mampu menyediakan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam hal kesempatan kerja, pendapatan dan peningkatan taraf hidup dalam mengaktifkan sektor produksi. Sesuai Peraturan Gubernur NTT Nomor 85 Tahun 2019 tanggal 28 Oktober 2019 tentang Pedoman Percepatan Pelaksanaan Pembangunan Pariwisata Estate di Provinsi NTT Tahun 2019-2023, maka terdapat 22 kawasan Pariwisata Estate yang akan dikembangkan di 22 kabupaten/kota yaitu: Pantai Lasiana – Kota Kupang, Pantai Liman Semau – Kabupaten Kupang, Lamalera – Kabupaten Lembata, Moru Wolwal – Kabupaten Alor, Koanara – Kabupaten Ende, Praimadita-Kabupaten Sumba Timur, Fatumnasi – Kabupaten TTS, Ile Boleng Meko- Kabupaten Flores Timur, Bola-Uma Ata-Kabupaten Sikka, Rest Area – Kabupaten Sumba Tengah, Wakelo Sawah- Kabupaten Sumba Barat Daya, Motaain-Kabupaten Belu, Kallaba Madja- Kabupaten Sabu Raijua, Wae Liang-Kabupaten Sumba Barat, Anakoli,-Kabupaten Nagekeo, Ina Mbele-Kabupaten Manggarai, Sano Nggoang- Kabupaten Manggarai Barat, Rana Mese-Kabupaten Manggarai Timur, Riung-Kabupaten Ngada, Insana-Kabupaten TTU, Motadikin- Kabupaten Malaka dan Mulut Seribu- Kabupaten Rote Ndao .

Pembangunan pariwisata di NTT dilakukan tentu bukan untuk para wisatawan saja tetapi juga untuk menjaga kelestarian dan keunikan, kekayaan alam dan budaya setempat yang dapat berkontribusi positif bagi ekonomi masyarakat. Memperhatikan komponen industri pariwisata 5 A tersebut, maka karya arsitektur berkontribusi untuk 3 komponen yaitu Attraction : menghadirkan destinasi wisata buatan dalam wujud bangunan ikonik, Amenity: bangunan restoran, cafe, pusat informasi pariwisata, museum dan Accommodation: bangunan hotel, resort, home stay. Arsitektur tradisional NTT dapat berkontribusi dalam pembangunan pariwisata mengingat aspek keunikan dan potensi lokal yang dimiliki suatu daerah berbeda-beda yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan/pengunjung untuk berekreasi, penelitian dan sebagainya.

Potensi Arsitektur Tradisional NTT
Wilayah Nusa Tenggara Timur dibagi menjadi 3 pulau besar yaitu Flores, Sumba dan Timor. Dari ketiga pulau tersebut tersebar etnis-etnis yang ada di ketiga pulau tersebut dan setiap wilayah memilki corak atau tradisi sendiri antara satu wilayah dengan wilayah yang lainnya. Sehingga NTT memilki khasanah budaya lokal yang banyak dan harus dilestarikan. Secara garis besar suku-suku di NTT dapat dikelompokkan dalam 14 kelompok etnik yaitu orang Sabu, Rote, Sumba,Timor (Helong), Timor Atoni, Tetun, Alor, Flores Timur, Wewerang, Solor,Lembata,Lio,Ngada dan orang Manggarai. Sementara secara artifak ragam arsitektur di NTT dapat dibedakan menjadi 10 ragam arsitektur.

yaitu: Arsitektur Sumba, Sabu, Rote,Atoni, Wekali, Alor, Sumba, Flores Timur, Lio, Ngada dan Arsitektur Manggarai.(Arsitektur Unwira,1992).

Wisatawan dapat mengenal dan mempelajari pesona arsitektur tradisional yang beraneka ragam ini secara keseluruhan mulai dari pola permukiman / perkampungan rumah adat, bentuk bangunan rumah, filosofi rumah adat itu sendiri, proses pembangunan sampai artefak dan ragam/ornamen hias yang ada. Secara umum pola permukiman rumah adat mencirikan konsep hubungan mikrokosmos dan makrokosmos, konsep mengelompok (kluster) dan pemanfaatan potensi topografi untuk penentuan hirarki yang jelas. Contohnya pola permukiman rumah adat suku Matabesi di Belu yang memiliki tipe kluster, dengan Rumah Besar (Uma Bot) sebagai pusat perkampungan dan terletak pada daerah yang lebih tinggi. kampung tradisional Takpala di Alor, terdapat beberapa komponen bangunan penting membentuk pola kluster. Pada daerah Flores dapat dijumpai pola permukiman yang hampir sama seperti pada perkampungan adat Wajo di Kabupaten Nagekeo dan Wae Rebo di Manggarai. Pola kluster juga diterapkan untuk tapak perkampungan tradisional di Sabu, dimana bangunan – bangunan berpusat pada satu titik yang berada pada ruang terbuka. Konsep berbeda terdapat pada pola perkampungan Sa’o Ria di Ende yang berbentuk linear. Hal ini dapat dilihat dari perletakan massa bangunan yang mengikuti alur jalan dan kontur tanah. Begitu juga dengan pola permukiman rumah tradisional Sumba tidak memiliki pola tertentu, tapi selalu memperhatikan topografi setempat dan menghindari letak rumah menghadap ke Timur dan Barat. Menurut kepercayaan jika rumah menghadap ke Barat atau Timur maka penghuninya akan mengalami malapetaka.

Dari aspek bangunan, secara umum rumah adat / rumah tradisional di NTT berbentuk panggung dan terdiri dari 3 bagian yaitu kaki (pondasi), badan (dinding) dan kepala (atap) yang mendominasi bangunan. Dominasi bentuk atap bangunan merupakan salah satu daya tarik utama rumah adat. Penggunaan material lokal seperti kayu, bambu untuk kontruksi dinding dan atap dari bahan daun lontar atau alang-alang, terbukti tanggap dengan kondisi alam khususnya gempa. Salah satu rumah adat yang paling terkenal adalah rumah adat Sumba karena bentuk arsitektur atapnya sering dipakai dalam berbagai desain arsitektur perkantoran modern di NTT. Rumah adat di Moni Ende yang utama adalah Sa’o Ria (rumah besar), berbentuk rumah panggung tanpa dilengkapi jendela dengan konstruksi atap menjulang dari lantai sampai ke bagian atas. Ada juga rumah adat yang tidak berpanggung seperti rumah suku Dawan yaitu Rumah Raja (Sonaf) dan Rumah Rakyat (Ume Khebu). Denah Sonaf berbentuk agak lonjong/elips. Bentuk tersebut melambangkan alam semesta dan sebagai pemersatu suku-suku. Rumah adat suku Boti di TTS berbentuk bundar dengan lantai tanah dan atapnya berbentuk kerucut sampai menyentuh tanah yang disebut Ume Kbubu atau Rumah Bulat.

Ragam Arsitektur Tradisional Nusa Tenggara Timur :

1.Manggarai

2.Ngada

3.Ende Lio

4.Lamaholot

5.Belu / Wehali

6.Alor

7.Atoni / Dawan

8.Rote

9.Sabu

10. Sumba

A.Sumba Timur
B.Sumba Barat

Ragam hias (ornamen dan dekorasi) pada arsitektur tradisional juga sangat mungkin untuk dimanfaatkan dalam rangka memperkaya estetika arsitektural pada berbagai bangunan baik secara eksterior maupun interior. Dalam pemanfaatan ragam hias tersebut tentu saja harus diolah sedemikian rupa untuk disesuaikan dengan tampilan estetika pada arsitektur bangunan. Dengan demikian, maka semua makna simbolik yang melekat dengan ragam hias pada arsitektur tradisionalnya tidak disertakan dalam penampilannya yang baru. Karena itu, unsur yang diadaptasikan atau ditransformasikan kedalam tampilan estetika arsitektur bangunan tersebut lebih diutamakan unsur rupanya (bentuknya), bukan makna simboliknya.

Beberapa contoh ragam hias dalam arsitektur Tradisional NTT :

1.Manggarai

2.Ngada

3.Sumba Timur

Lesson Learned Untuk Arsitektur Pariwisata Estate NTT

Penggunaan arsitektur tradisional NTT yang sangat beranekaragam ini dapat menjadi potensi yang besar dan kuat untuk membangun ciri pariwisata NTT. Pembangunan lingkungan binaan yang mewadahi berbagai aktivitas manusia baik indoor maupun outdoor khususnya yang menunjang sektor pariwisata terus dilakukan semua pihak baik masyarakat, dunia usaha, arsitek dan profesi lainnya dan pemerintah. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai cara seperti melalui berbagai kegiatan sayembara arsitektur dan salah satunya adalah Sayembara Desain Arsitektur Nusantara yang dilakukan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang didukung oleh sebuah produsen cat internasional. Kegiatan sayembara ini dilakukan secara berkesinambungan sejak tahun 2013 sampai sekarang dengan beragam tema yang terkait dengan kepariwisataan seperti tema Rumah Budaya Nusantara untuk tahun 2013 sampai tema Pusat Informasi Pariwisata untuk tahun 2019. Tujuan dari kegiatan ini untuk mencari dan menggali potesi arsitekrur tradisional yang mampu menjadi sebuah gagasan dalam melestarikan, mengkinikan dan menduniakan arsitektur nusantara. Diantara semua kegiatan tersebut terdapat Sayembara Arsitektur Rumah Wisata (Homestay) tahun 2016 dan Bangunan Restoran tahun 2017 yang berlokasi di 10 Destinasi Destinasi Prioritas Indonesia salah satunya Labuan Bajo Manggarai Barat dan sayembara tahun 2015 dengan tema Bandara yang salah satu lokasinya adalah Bandara Mali Alor.

Penggunaan unsur arsitektur tradisional NTT dalam pembangunan lingkungan binaan buatan dapat dilakukan melalui konsep penataan tapak, bangunan dan interior (ruang dalam). Penataan tapak melalui perletakan masa bangunan sesuai pola permukiman adat yang berada di daerah tersebut tempat sebuah kawasan Pariwisata Estate dibangun, bangunan dengan bentuk dan penggunaan material baik bangunan dengan material modern yang dibentuk dengan mengambil gagasan bentuk bangunan tradisional, penggunaan material yang sama/lokal namun dengan tampilan dan variasi yang sesuai dengan konteks kekinian (kontemporer) serta bangunan yang dibangun mirip seperti bangunan aslinya.

Pembangunan 7 Destinasi Pariwisata Estate NTT tahun 2019 di Pantai Liman (Kabupaten Kupang, Fatumnasi (TTS), Wolwal (Alor), Koanara (Ende), Praimadita (Sumba Timur) dan Mulut Seribu (Rote Ndao) dilakukan dengan membangun sejumlah fasilitas pendukung seperti akomodasi (cottage) dan restoran dengan upaya menghadirkan nuansa arsitektur lokal setempat. Diharapkan untuk pembangunan destinasi selanjutnya, tetap konsisten untuk mengadopsi potensi arsitektur lokal setempat sebagai salah satu upaya menghadirkan keunikan destinasi wisata NTT dalam rangka membentuk pengalaman wisata terbaik yang didapat dari hal unik dan otentik.

Referensi:

  1. Andjelicus,Paul.2015. Rumah dan Permukiman Tradisional NTT-Intisari Rencana Tata Ruang Permukiman Transmigrasi di NTT. Dinas Nakertrans NTT (tidak dipublikasikan). Kupang.
  2. Bano, Rubu,M.Z,dkk.1992. Arsitektur Proto Mongoloid-Negroid-Austroloid. Kelompok Kerja Arsitektur Vernakular.UNWIRA. Kupang.
  3. Dwijendra,Acwin.2018. Peran Arsitek Untuk Menjaga Kearifan Lokal Dalam Konsep Arsitektur Bangunan-Materi Presentasi Kampanye Edukasi Publik Bidang Penataan Bangunan dan Lingkungan. Denpasar.Bali
  4. Pergub NTT Nomor 85 Tahun 2019 tentang Pedoman Percepatan Pelaksanaan Pengembangan Pariwisata Estate di Provinsi NTT Tahun 2019-2023.
  5. https://www.femina.co.id/trending-topic/gaya-arsitektur nusantara modern di Bandara Mali Alor

Sumber : Istimewa (Paul J. Andjelicus)
Posting : Fajar Manik

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *